Yang Perlu dilakukan Suami-Istri dalam Merawat Komitmen

Setiap pernikahan impian yang Anda saksikan memiliki kisah di balik layar yang mungkin tidak terduga. Perayaan tersebut mungkin tampak indah, seolah-olah semua aspek terlihat sempurna. Meskipun tidak dapat dihindari untuk berasumsi bahwa perencanaan pernikahan berjalan lancar, lebih bijaksana jika Anda juga memikirkan upaya di balik sebuah pesta yang sukses, yakni upaya mengelola keuangan. Sering kali, tidak peduli berapa lama pasangan telah bersama, ketika uang menjadi subjek pembahasan, tiba-tiba hal tersebut bisa menjadi masalah. Jika tidak ditangani dengan baik, masalah yang belum terselesaikan akhirnya membuat seluruh proses perencanaan pernikahan menjadi runyam, terutama ketika kasus serupa terungkit di masa depan. Itu sebabnya, kali ini Bridestory akan membahas beberapa situasi keuangan yang mungkin dapat terjadi saat perencanaan pernikahan, bersama dengan beberapa tips tentang bagaimana Anda dapat menghindari konflik serupa. Diskusikan Situasi Keuangan Anda Saat Ini Meski canggung, situasi keuangan Anda adalah topik serius dan bahkan wajib dibahas sebelum Anda memantapkan langkah menuju pelaminan bersama dengan pasangan Anda. Selain itu, jika Anda memiliki hutang atau pinjaman yang dapat memengaruhi perencanaan pernikahan dan kehidupan pernikahan Anda kelak, bicarakan secara terbuka tentang hal itu, termasuk pendekatan Anda terhadap tabungan dan investasi. Topik lebih lanjut tentang bagaimana Anda membagi kewajiban keuangan atau biaya hidup sesudahnya, seperti akomodasi, biaya perawatan anak, dan sebagainya akan baik untuk didiskusikan bahkan sebelum menikah. Melalui percakapan ini, Anda dapat memeriksa apakah Anda dan pasangan cocok secara finansial dan menghindari konflik di masa mendatang. Buat Rincian Anggaran Pernikahan dan Kebutuhan Setelah Menikah Setelah mempertimbangkan poin pertama yang menyimpulkan beberapa aspek utama yang harus dipenuhi di masa depan, mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan Anda untuk pernikahan akan lebih mudah. Ketika Anda telah menetapkan anggaran biaya pernikahan, Anda pun akan lebih mudah dalam menentukan pada aspek apa saja Anda dapat menghemat atau sekaligus memotong pengeluaran tersebut. Misalnya, beberapa pasangan bermimpi memiliki sesi pre-wedding mereka di luar negeri, sehingga dibutuhkan biaya yang lebih besar untuk anggaran pemotretan tersebut. Sementara, beberapa pasangan lainnya mungkin lebih suka bulan madu di destinasi eksotis dan lebih memilih untuk mengadakan pemotretan pre-wedding yang lebih sederhana. Atau mungkin Anda salah satu dari pasangan yang lebih menghargai perhiasan daripada resepsi pernikahan nan mewah? Pilihan sepenuhnya ada di tangan Anda dan pasangan. Pahami Etika dalam Membagi Biaya Pernikahan Setelah menetapkan anggaran, langkah penting lainnya adalah menetapkan perhitungan untuk seluruh biaya terkait pernikahan. Artinya, Anda harus tahu siapa pihak yang akan membayar atau berapakah anggaran yang dimiliki oleh masing-masing pihak untuk hari pernikahan. Setelah menentukan bagian tersebut, pihak yang memberikan kontribusi lebih besar harus selalu ingat untuk tidak mengungkitnya, atau bahkan memaksakan pendapat selama proses perencanaan berlangsung. Jika orang tua Anda juga ingin berkontribusi dalam urusan finansial untuk pesta pernikahan tersebut, jangan lupa untuk menentukan sendiri hal-hal apa yang ingin Anda bayar, misalnya, busana dan cincin pernikahan. Kenali Kebiasaan Pasangan dalam Mengelola Keuangan Setiap orang memiliki penerapan keuangan yang berbeda. Beberapa orang bisa dikategorikan sebagai pemboros, sementara yang lain dapat mengelola keuangannya secara sangat hemat. Jadi, ketika merencanakan pernikahan, bersiaplah untuk terkejut saat menjalani prosesnya. Anda mungkin memiliki kebiasaan berbelanja secara royal pada satu hal, tetapi bisa saja pasangan Anda tidak setuju dengan keputusan tersebut atau sebaliknya. Jadi, pastikan Anda membicarakan harapan Anda untuk menghindari argumen di masa depan. Bahkan sebenarnya, sebagian besar argumentasi yang terjadi dengan pasangan di kemudian hari terjadi karena hal-hal kecil. Tentunya juga, ingatlah untuk menghormati keputusan satu sama lain terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan untuk mengakhiri perdebatan dan berkompromi. Jika konflik tetap terjadi, selalu ingat untuk menjaga emosi dan ego Anda. Pikirkan dengan jernih dan diskusikan dengan pasangan Anda tentang bagaimana Anda harus menangani masalah tersebut, kemudian fokus pada solusinya. Jika Anda dan pasangan tidak mencapai kesepakatan, maka hal tersebut hanya akan menjadi sumber konflik di masa depan. Diskusi seputar biaya pernikahan juga bisa menjadi langkah awal bagi Anda dan pasangan untuk saling terbuka, sebelum nantinya Anda akan berhadapan dengan isu keuangan rumah tangga yang mungkin lebih pelik. Semakin cepat Anda membicarakan kondisi keuangan dengan pasangan, semakin baik hasilnya bagi kedua pihak keluarga. Semoga berhasil!

Yang Perlu dilakukan Suami-Istri dalam Merawat Komitmen

Para newlyweds atau pengantin baru sering kali merasa pasangannya berubah ketika hubungan mereka resmi menjadi suami-istri. Jika saat pacaran, pasangan bisa begitu romantis, tapi mengapa setelah menikah hubungan terasa formal. Maka muncullah komentar, “Wah ternyata menikah seperti ini ya?” Apakah komitmen yang diresmikan dalam ikatan pernikahan justru membuat semua interaksi dengan pasangan terasa formal? Lalu jika semuanya terasa formal, bagaimanakah merawat komitmen yang ada agar tidak terasa sekadar mempertahankan hubungan yang sudah sah?

Membangun komitmen sangat penting untuk mengantisipasi perubahan rasa.

Menurut Pingkan Rumondor, M.Psi., hal pertama yang harus disadari oleh pengantin baru adalah harus siap menerima segala perubahan yang terjadi. Karena satu-satunya yang konstan dalam dunia ini adalah hukum perubahan. “Kita jangan sampai berpikir bahwa kita dan pasangan akan selalu sama seperti kita pacaran dulu. Rasa bisa berubah,” imbuh Pingkan yang adalah Psikolog Klinis Dewasa yang memilih spesialisasi di bidang hubungan (relationship), keluarga dan pernikahan.

Bahkan menurutnya, pasangan yang sudah menikah 25 tahun sekalipun pasti mengalami begitu banyak perubahan, termasuk perubahan rasa. Meski terjadi perubahan rasa, Pinkan mengingatkan untuk jangan langsung skeptis. Ia justru menekankan bahwa komitmen harus dilatih karena tidak terjadi secara natural.

Apa iya komitmen bisa dilatih? Pinkan menjelaskan, komitmen itu sebenarnya adalah hal-hal kecil, dimana Anda mau melakukan sesuatu untuk mempertahankan hubungan. “Jadi komitmen adalah kesadaran yang muncul untuk melakukan yang terbaik untuk pasangan dan hubungannya.”

Itu mengapa dalam komitmen ada sebuah devotion yang mendorong Anda untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga bagaimana agar hubungan ini bisa tetap bertahan. “Serta mau berusaha agar hubungannya tetap bisa dijalani. Karena itu harus ada sayang di dalam komitmen yang kemudian menjadikannya cinta,” papar Pingkan yang aktif membagikan tentang mindful relationship di akun Instagramnya @pingkancbr.

Jadi menurut Pingkan, komitmen adalah kesepakatan untuk mau melakukan sesuatu agar hubungan yang dibangun bisa dijalani bersama. Adapun cara untuk melatihnya adalah dengan melakukan “evaluasi” bersama pasangan. Apa yang dievaluasi? “Bagaimana hubungan ini telah dijalani? Bagaimana pasangan mempersepsikan hubungan yang terjadi? Apa yang sama-sama bisa di-improve? Bagaimana supaya bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama? Bagaimana agar tetap mesra. Semua ini harus didiskusikan secara terbuka.”

Buatlah jadwal tetap untuk mengevaluasi jalinan komitmen yang terbentuk bersama pasangan.

Bahkan Pingkan menyarankan, percakapan yang bertemakan “evaluasi” tersebut sebaiknya dilakukan secara rutin. “Bisa mingguan, bulanan, atau tahunan. Inilah proses melatih menjaga komitmen,” ucap Pinkan.

Jika kemudian dalam proses evaluasi itu, terungkap kalau ada yang merasakan perubahan rasa, Pingkan mengingatkan agar jangan langsung mempersepsikan kalau pasangan sudah tidak punya komitmen lagi. Penting untuk menyadari bahwa perubahan adalah hal yang wajar dalam rumah tangga, karena ini justru menandakan kalau hubungan Anda dan pasangan tidak stagnan. “Karena kita masing-masing bertumbuh dan ini tentu memengaruhi hubungan yang terjalin.”

Yang harus dipikirkan kemudian, sambung Pingkan, adalah bagaimana mengatasi hal tersebut. Maka muncullah kembali kesadaran melakukan sesuatu untuk hubungan. Inilah konsep dasar dari komitmen tersebut, “Willingness to do together atau keinginan untuk bersama-sama melakukan sesuatu.” Bisa jadi yang dibutuhkan sebenarnya adalah melakukan hal sederhana bersama untuk menciptakan sparks dalam pernikahan. “Misalnya saja melakukan hal-hal baru dengan pasangan yang kemudian mengembalikan kehangatan cinta antara Anda dengan pasangan,” pungkas Pingkan.

Leave A Comment

Apapun yang Anda Butuhkan Kami Siap Membantu!

X
1
Scan the code
Hubungi Sekarang